melisaanjanipuspitasari

Just another WordPress.com site

PERAN GANDA PEREMPUAN DALAM PEREKONOMIAN KELUARGA (STUDI KASUS: KAMPUNG CIMAPAG DESA CIANTEN) May 26, 2011

Filed under: education — melisaanjanipuspitasari @ 12:47 am

Oleh:

Kelompok 19[1]

 

 

Pendahuluan

Kampung Cimapag berada di kawasan perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII yang memiliki luas lahan 857,7 ha pada ketinggian 800 – 1.000 mdpl, sekaligus berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kondisi iklim relatif sejuk dengan suhu berada dikisaran C – C, kelembaban antara 38% – 80%, curah hujan rata-rata 5,238 mm. Kampung Cimapag sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda dan mulai berkembang pada tahun 1953.

Jarak tempuh menuju ke Desa Cianten dari IPB Darmaga sekitar 2-2,5 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi karena jarang ada kendaraan umum untuk mengakses desa tersebut. Kalau pun ada, hanya dapat diakses sampai Pabrik PT Perkebunan Nusantara VIII. Untuk menuju ke Kampung Cimapag, harus ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam dari Pabrik PT Perkebunan Nusantara VIII. Kendaraan yang ada di Kampung Cimapag hanya untuk sekedar mengangkut hasil petikan teh serta antar jemput anak-anak ke Sekolah Dasar yang terletak di Cianten. Ada juga kendaraan umum yang sesekali lewat untuk mengangkut penumpang ke pasar.

Kampung Cimapag berada di sektor 8 PT Perkebunan Nusantara VIII. Setiap keluarga perkebunan bebas untuk membangun rumah di kawasan PT Perkebunan Nusantara VIII karena pihak PT Perkebunan Nusantara VIII memberikan wewenang untuk membangun rumah di areal PT Perkebunan Nusantara VIII dengan ketentuan tidak mengganggu perkebunan teh. Hubungan antara karyawan dan PT Perkebunan Nusantara VIII bisa dikatakan harmonis karena kedua pihak hidup saling berdampingan dimana keduanya saling memberikan keuntungan satu sama lain.

Pada masyarakat modern, tuntutan kehidupan saat ini semakin bertambah terutama bidang sosial dan ekonomi. Semua ini mengakibatkan status perempuan tidak lagi sebagai ibu rumah tangga saja, melainkan dituntut peranannya dalam berbagai kehidupan sosial kemasyarakatan, seperti turut bekerja membantu suami, bahkan untuk menopang ekonomi keluarga. Perempuan bekerja di luar rumah bukan hanya sebagai tuntutan pribadi atau sebagai usaha aktualisasi diri tetapi karena keharusan untuk menopang biaya rumah tangga. Meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja berdampak pada pergeseran peran perempuan dari sektor domestik ke publik. Hal ini yang menjadi alasan utama mengapa perlu dilakukan studi tentang peran ganda perempuan dalam perekonomian keluarga di Kampung Cimapag.

Kondisi tersebut dapat dijabarkan berdasarkan teori Struktural Fungsional, dimana adanya perubahan di satu sisi dalam kelembagaan yang akan diikuti oleh perubahan berikutnya sebagai penyeimbang perubahan awal sehingga terjadi keseimbangan dinamis seolah tidak terjadi perubahan.

Selain itu, dapat dikaji dengan konsep AGIL, yaitu: A (Adaptation) adalah cara sistem beradaptasi dengan dunia material dan pemenuhan kebutuhan material untuk bertahan hidup (sandang, pangan, dan papan). Ekonomi teramat penting dalam subsistem ini; G (Goal attainment) adalah pencapaian tujuan. Subsistem ini berurusan dengan hasil atau produk (output) dari sistem dan kepemimpinan; I (Integration) adalah penyatuan subsistem ini berkenaan dengan menjaga tatanan; L (Latent pattern maintenance and tension management) mengacu pada kebutuhan masyarakat untuk mempunyai arah panduan yang jelas dan gugus tujuan dari tindakan. (Parson dalam Smelser 1956: 59).

Untuk melihat kondisi tersebut, dilakukan studi di Kampung Cimapag, Desa Cianten pada tanggal 11 Desember 2010 sampai dengan 13 Desember 2010. Teknik pengumpulan data secara kualitatif dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan juga melalui wawancara mendalam dengan para responden dan informan. Informan merupakan pihak yang dianggap banyak mengetahui tentang lingkungannya sehingga dapat memberikan informasi lebih dalam, yaitu para tokoh masyarakat dan pejabat mandor PT Perkebunan Nusantara VIII, sementara responden merupakan pihak yang memberi keterangan dalam dirinya yang terdiri dari warga Kampung Cimapag yang bekerja di PT Perkebunan Nusantara VIII, baik laki-laki maupun perempuan. Untuk melengkapi data primer yang diperoleh, digunakan data sekunder dari berbagai pustaka untuk menganalisis kondisi yang ada. Unit analisis dari studi ini adalah keluarga, terutama keluarga dimana ada figur perempuan yang menjalankan peran ganda sebagai pemetik daun teh sekaligus sebagai pengurus rumah tangga.

Peran Ganda Perempuan Berdasarkan Teori Struktural Fungsional

Sebagian besar warga di Kampung Cimapag bekerja sebagai karyawan lepas ataupun karyawan tetap di PT Perkebunan Nusantara VIII. Ada yang bekerja sebagai mandor, pemangkas, pemetik daun teh, penyemprot hama ataupun sekedar membetulkan jalan perkebunan. Selain bekerja sebagai pemetik daun teh, warga juga mempunyai pekerjaan sampingan, seperti bertani, beternak kambing, dan berdagang. Warga dibebaskan untuk menanam tanaman yang bisa mendukung pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari asalkan tidak mengganggu wilayah tanaman perkebunan teh. Para karyawan mengalami masa pensiun saat mereka berumur 55 tahun.

Walaupun upah yang diperoleh terbilang kecil, tetapi warga masih bertahan menjadi karyawan karena karyawan tetap  mendapat investasi rumah yang disebut rumah “Bedeng”, sementara jika hanya bekerja sebagai karyawan lepas, mereka masih diberikan kebebasan, seperti membangun rumah di sekitar lahan PT Perkebunan Nusantara VIII yang tidak produktif apabila digunakan untuk penanaman teh. Selain itu, warga diberikan akses pendidikan dengan didirikannya SD dan SMP secara gratis dengan menggunakan program pemerintah, yaitu BOS serta menyediakan jasa antar jemput anak sekolah. Dari segi kesehatan, warga diberikan pengobatan gratis asalkan warga datang sendiri ke rumah sakit yang berada dekat dengan pabrik.

Dengan diberikannya berbagai fasilitas oleh PT Perkebunan Nusantara VIII, warga merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun mereka sadar bahwa lahan yang mereka tempati sekarang bukanlah milik mereka melainkan milik PT Perkebunan Nusantara VIII yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh PT Perkebunan Nusantara VIII. Warga cenderung pasrah menerima keadaan dan cukup bersyukur sehingga tidak ada konflik yang terjadi antara warga dengan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Warga yang bekerja, baik sebagai karyawan lepas maupun karyawan tetap dibayar sebesar lima ratus rupiah per kilogram daun teh yang mereka dapat. Menurut pengakuan warga, mereka mendapatkan 15-25 kilogram daun teh per harinya.[2] Penghasilan dari karyawan lepas biasanya dihitung berdasarkan jumlah per ton daun teh yang mereka kumpulkan dalam 1 hari, setelah itu semua hasil yang didapat ditotalkan dan dibayar saat awal bulan.[3] Sedangkan untuk karyawan tetap, mereka mendapatkan penghasilan yang sudah pasti tiap bulannya. Rata-rata pendapatan yang dihasilkan oleh kepala keluarga tidak mencukupi kebutuhan keluarga mengingat lokasi kampung yang sulit dijangkau sehingga menuntut biaya lebih dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Oleh karenanya, perempuan berusaha membantu pemenuhan kebutuhan demi keberlangsungan hidup keluarganya. Sebenarnya perempuan-perempuan di sana sedikit enggan bekerja menjadi karyawan dikarenakan upah yang minim sementara perempuan memiliki tanggung jawab yang besar dalam upaya peningkatan pendapatan dibandingkan laki-laki, selain itu anak-anak mereka pun harus dititipkan di tempat penitipan yang disediakan oleh pihak PT Perkebunan Nusantara VIII selama mereka bekerja. Namun, alasan ekonomi membuat mereka harus melakukan hal tersebut.

Jika dijabarkan berdasarkan analisis Struktral Fungsional, terbentuk suatu keharmonisan antara PT Perkebunan Nusantara VIII dengan warga Kampung Cimapag. Ini terlihat dari saling ketergantungan antara PT Perkebunan Nusantara VIII dengan masing-masing keluarga Kampung Cimapag. Mayoritas karyawan lepas pemetik daun teh adalah perempuan sehingga terlihat adanya peranan ganda kaum perempuan di Kampung Cimapag, yaitu sebagai pencari nafkah keluarga serta pengurus rumah tangga.

Peranan ganda perempuan di Kampung Cimapag terimplikasi pada (1) peran kerja sebagai ibu rumah tangga (feminime role) yang meski tidak secara langsung menghasilkan pendapatan tetapi secara produktif bekerja mendukung kaum pria (kepala keluarga) untuk mencari penghasilan (uang); dan (2) peran sebagai pencari nafkah (tambahan atau utama). Selain untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, mereka juga melengkapi kebutuhan karyawan PT Perkebunan Nusantara VIII yang hingga kini masih sangat dibutuhkan. Bahkan pada kasus tuan rumah yang kami tinggali, suami sebagai kepala keluarga sudah pensiun dari PT Perkebunan Nusantara VIII dan bekerja hanya sebagai petani, sedangkan istrinya bekerja di PT Perkebunan Nusantara VIII sebagai karyawan tetap. Saat terjun ke perkebunan, kami juga daripada laki-laki.

Warga juga berusaha mencari penghasilan tambahan dengan melakukan perputaran uang untuk membuka warung, membeli ternak kambing dan memiliki kolam empang sehingga apabila kondisi terburuk terjadi pada PT Perkebunan Nusantara VIII, para keluarga bisa tetap mempertahankan hidup dengan perputaran uang yang mereka lakukan. Apalagi melihat sebagian besar anggota keluarga yang bekerja di PT Perkebunan Nusantara VIII adalah karyawan lepas yang kesejahteraan hidupnya dikesampingkan dibanding karyawan tetap yang diberi beberapa fasilitas dan tunjangan walaupun mereka tidak bekerja.

Beberapa anak perempuan yang menginjak usia remaja memilih bekerja di kota daripada menjadi pemetik teh. Karena pendidikan yang mereka peroleh rata-rata hanya sampai SMP, mereka sebagian besar bekerja sebagai penjaga toko. Hal ini kemudian diikuti oleh remaja lain di Kampung Cimapag sehingga sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh PT Perkebunan Nusantara sebagai tenaga kerja tidak tercukupi. Namun demikian, perempuan di Kampung Cimapag dapat dikatakan melakukan tiga reproduksi, yaitu reproduksi biologis, reproduksi tenaga kerja, dan reproduksi sosial.

Selain adanya keharmonisan antara PT Perkebunan Nusantara VIII dengan warga Kampung Cimapag, dilihat juga adanya keharmonisan perempuan dalam keluarga yang menyeimbangkan pola nafkah keluarga dalam mencukupi kebutuhan hidup. Perempuan tetap bisa menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga tanpa terganggu dengan perannya sebagai pemetik teh. Kontribusi perempuan dalam rumah tangga adalah sebagai pengelola keuangan, penanggungjawab semua pekerjaan domestik, pencari nafkah keluarga, simpul jaringan sosial yang meliputi jaringan sosial dengan tukang sayur, jaringan sosial dengan tukang kredit dan sebagainya.

Kondisi lain yang didapatkan dari PT Perkebunan Nusantara VIII adalah akan digunakannya mesin pemetik teh untuk menggantikan tenaga pemetik teh. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan teh. Kondisi ini memungkinkan terjadinya proses perumahan bagi karyawan PT Perkebunan Nusantara VIII karena yang dibutuhkan hanyalah pekerja untuk menjalankan mesin-mesin yang ada. Kalau pun ada karyawan yang masih bisa bekerja, mereka hanya bekerja dibagian pabrik yang memang tidak bisa digantikan dengan mesin. Hal ini akan berdampak pada kehidupan warga Kampung Cimapag karena mereka, termasuk para perempuan akan kehilangan pekerjaan mereka. Perempuan yang tadinya melakukan peran gandanya demi menopang perekonomian keluarga, tidak lagi bisa melakukan. Kondisi ini akan mendorong warga dan pihak PTPN VIII akan mencari keseimbangan baru dalam pola hubungannya.

Peran Ganda Perempuan Berdasarkan Konsep AGIL

Kondisi di Kampung Cimapag dapat pula dikaji dengan konsep AGIL, yaitu: A (Adaptation) adalah cara sistem beradaptasi dengan dunia material dan pemenuhan kebutuhan material untuk bertahan hidup (sandang, pangan, dan papan). Ekonomi teramat penting dalam subsistem ini. Keadaan saling ketergantungan antara perkebunan teh dengan para pekerja dan pemetik memang sudah terjalin sinegis sejak masa penjajahan Belanda. Orang yang bukan asli penduduk Kampung Cimapag pun ikut berbondong-bondong ke daerah ini untuk mendapatkan pekerjaan. Pada awalnya yang bekerja di perkebunan teh ini adalah laki-laki. Seiring berjalannya waktu dan himpitan ekonomi perempuan pun ikut bekerja sebagai pemetik teh di PT Perkebunan Nusantara VIII walaupun dengan imbalan yang tidak sesuai dengan pekerjaannya. Hal ini dikarenakan laki-laki tidak terlalu produktif lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga Kampung Cimapag mayoritas bekerja di PT Perkebunan NusantaraVIII beradaptasi dengan daerah perkebunan teh dan menurut mereka perkebunan teh adalah sumber penghasilan utama. Menurut para pemetik teh khususnya perempuan,  mereka harus survive  membantu sang suami memenuhi kebutuhan ekonomi  karena kalau mereka tidak bisa melihat situasi dan kesempatan yang ada mereka akan tergilas oleh zaman.

G (Goal attainment) adalah pencapaian tujuan. Subsistem ini berurusan dengan hasil atau produk (output) dari sistem dan kepemimpinan. PT Perkebunan Nusantara VIII sebagai unit bisnis yang menginginkan keuntungan dari perkebunan teh memiliki tujuan menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Pencapaian keuntungan sebesar-besarnya ini diterapkan dalam target produksi setiap harinya dari sekitar 800 ha perkebunan teh, dengan tujuan pasar ekspor. Pihak PT Perkebunan Nusantara VIII menyadari tujuan ini tidak akan tercapai tanpa bantuan langsung dari warga  Kampung Cimapag yang menjadi pekerja PT Perkebunan Nusantara VIII. Agar pekerja dapat bekerja secara optimal, PT Perkebunan Nusantara VIII menyediakan berbagai macam fasilitas untuk menunjang keberadaan para pekerjanya. Di antaranya adalah fasilitas penyediaan klinik dan pengobatan gratis. Fasilitas lainnya adalah penyediaan Tempat Penitipan Anak (TPA) secara gratis dengan semua perlengkapannya berasal dari PT Perkebunan Nusantara VIII. Dengan adanya layanan ini, pekerja dapat lebih berkonsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaanya, baik sebagai pemetik teh maupun sebagai karyawan lainnya. Keberadaan PT Perkebunan Nusantara VIII berusaha melengkapi semua kebutuhan hidup yang diperlukan oleh warga Kampung Cimapag termasuk dalam peningkatan kesejahteraan para pekerja. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara VIII adalah pengadaan listrik ke Kampung Cimapag. Hal ini dilakukan karena PT Perkebunan Nusantara VIII menyadari arti penting listrik bagi keberlangsungan hidup di Kampung Cimapag. Layanan lainnya adalah penyediaan koperasi karyawan yang ada di lokasi Pabrik Cianten. Pekerja PT Perkebunan Nusantara VIII yang tidak lain adalah warga Kampung Cimapag menyadari keberadaan mereka sebagai pekerja yang sangat bergantung kepada PT Perkebunan Nusantara VIII. Jika PT Perkebunan Nusantara VIII mengusir mereka, mereka tidak berdaya untuk menentang. Sehingga pencapaian tujuan PT Perkebunan Nusantara VIII menjadi tujuan utama pekerjaan mereka, baik dengan bekerja sebagai pemetik teh ataupun sebagai karyawan lainnya. Hubungan antara PT Perkebunan Nusantara VIII dijaga agar selalu dalam keadaan seimbang dan harmonis. Meskipun ada potensi konflik, misalnya terlalu rendahnya harga daun teh per kilo gramnya, pihak PT Perkebunan Nusantara VIII selalu berusaha menyeimbangkannnya dengan pemberian penjelasan tentang harga daun teh dan menaikkan harga teh pada taraf yang tidak merugikan pekerja dan perusahaan. Pekerja juga merespon semua yang diberikan oleh PT Perkebunan Nusantara VIII dengan bekerja sebaik mungkin di kebun teh. Pekerja dan PT Perkebunan Nusantara VIII berada dalam integrasi satu dengan lainnya dalam pencapaian tujuan kedua pihak sehingga terjadi hubungan simbiosis mutualisme antara PT Perkebunan Nusantara VIII dan pekerja atau warga Kampung Cimapag.

I (Integration) adalah penyatuan subsistem ini berkenaan dengan menjaga tatanan. PT Perkebunan Nusantara VIII dalam pencapaian tujuannya terintegrasi dengan para pekerjanya. PT Perkebunan Nusantara VIII dalam menjalankan fungsinya memiliki peraturan dalam operasionalisasi dan hubungan dengan pekerjanya. Kampung Cimapag yang di dalamnya terdapat puluhan keluarga mempunyai aturan tidak tertulis dalam kehidupan komunitasnya. Kedua kelembagaan ini saling menyesuaikan atau saling beradaptasi. PT Perkebunan Nusantara VIII dalam pembuatan peraturannya selalu mempertimbangkan keberadaan pekerjanya karena akan berpengaruh pada kinerja pekerja. Demikian juga keluarga atau komunitas Kampung Cimapag, dalam menjalankan proses kehidupannya selalu berusaha agar tidak merugikan PT Perkebunan Nusantara VIII. Kedua pihak selalu berusaha menjaga tatanan yang tidak merugikan kedua pihak.

L (Latent pattern maintenance and tension management) mengacu pada kebutuhan warga untuk mempunyai arah panduan yang jelas dan gugus tujuan dari tindakan. Dalam studi kasus di Kampung Cimapag, dimana terdapat pola-pola yang menjadi panduan dalam menjalankan tugasnya masing-masing, bila dihubungkan dengan hubungan antara PT Perkebunan Nusantara VIII dengan warga Kampung Cimapag dapat terlihat warga dalam bertindak terutama mengenai hal yang menyangkut dengan pekerjaan, PT Perkebunan Nusantara VIII telah membuat suatu acuan yang harus ditaati bersama-sama, guna terciptanya hubungan yang saling menguntungkan semua pihak. Contohnya dalam memetik teh, agar teh yang dihasilkan adalah kualitas terbaik, maka hanya pucuk teh lah yang boleh dipetik oleh para pemetik teh, karena itu para pemetik teh dilarang menggunakan gunting agar daun teh yang tua tidak ikut terpetik dan tercampur dengan pucuk teh sehingga tidak mengurangi kualitas teh yang dihasilkan. Pola ini secara jelas dan tegas menjadi sebuah acuan dan arah panduan bagi pemetik teh yang mengatur tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dimana tindakan yang dilakukan mengacu pada sebuah tujuan bersama yaitu keuntungan semua pihak (PT Perkebunan Nusantara VIII dan para pekerja di PT Perkebunan Nusantara VIII). PT Perkebunan Nusantara VIII akan bisa memproduksi teh yang berkualitas baik sehingga  pemetik teh dan para pekerja yang bekerja PT Perkebunan Nusantara VIII akan dapat terus bekerja di perkebunan tersebut. Pola ini terus diupayakan, akan tetapi ada beberapa kasus yang dimana para mandor PT Perkebunan Nusantara VIII pernah memergoki para pemetik teh yang menggunakan gunting untuk memetik teh. Para mandor yang secara tidak langsung merupakan wakil dari PT Perkebunan Nusantara VIII berusaha dengan sebaik mungkin dan menggunakan pendekatan secara halus menegur para pekerja tersebut. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk memanajemen tekanan serta menghindari gesekan antara pekerja (pemetik teh) dengan PT Perkebunan Nusantara VIII guna menghindari terjadinya faktor-faktor yang dapat menurunkan produktivitas kerja para pemetik teh serta menghindari terjadinya konflik.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Pentingnya peran perempuan di Kampung Cimapag mengakibatkan munculnya peran ganda bagi perempuan, yaitu sebagai sumber nafkah dan pengurus rumah tangga. Selain memiliki peran ganda, perempuan juga melakukan tiga reproduksi, yaitu reproduksi biologis, reproduksi tenaga kerja, dan reproduksi sosial. Kehidupan warga Kampung Cimapag dan PT Perkebunan Nusantara VIII yang saling berdampingan menjadi salah satu alasan mengapa tidak ada konflik berarti yang terjadi selama ini. Kedua pihak hidup dengan saling menguntungkan satu sama lain. Kondisi ini akan sangat baik jika tetap dijaga, dimana keharmonisan menjadi aspek penting dalam kehidupan mereka.

Hubungan yang terintegrasi ini akan terus berlanjut dalam harmoni. Jika ada permasalahan pada satu kelembagaan akan segera diseimbangkan oleh kelembagaan yang lainnya. Dalam analisis hubungan antara PT Perkebunan Nusantara VIII dengan masyarakat atau warga Kampung Cimapag, pada masa yang akan datang apabila pihak keluarga atau komunitas menginginkan perubahan akan segera diseimbangkan oleh PT Perkebunan Nusantara VIII. Namun, hubungan kedua stakeholder ini diakui tidak pernah integrasi sempurna, sebab keinginan kedua pihak tidak pernah terpenuhi secara sempurna dengan keberadaan pihak lain. Penyesuaian yang baru tidak pernah sempurna seperti perubahan yang diharapakan.

Jika suatu ketika ada permasalahan yang terjadi, maka kedua pihak harus bisa merundingkannya secara baik-baik agar tetap dapat menguntungkan bagi kedua pihak. Apalagi jika dilihat dari adanya rencana PT Perkebunan Nusantara VIII yang akan menggunankan mesin untuk menggantikan tenaga pekerja pemetik teh. PT Perkebuanan Nusantara VIII harus tetap memperhatikan nasib karyawannya setelah teknologi itu diterapkan. Begitu juga dengan para karyawan yang juga harus berusaha memikirkan jalan keluar terbaik untuk kelangsungan hidup mereka jika nantinya penggunaan mesin benar-benar dilakukan. Hal ini akan membantu kedua pihak untuk memperoleh jalan keluar terbaik untuk menjaga keharmonisan yang telah ada. Salah satu jalan keluar yang dapat diambil oleh PT Perkebunan Nusantara VIII adalah dengan memberikan tunjangan yang disertai pemberian suatu ketrampilan pada pekerjanya agar mereka bisa berdaya dan tidak tergantung lagi dengan PT Perkebunan Nusantara dikemudian hari.

Referensi

Horton, Paul B dan Hunt Chester L. 1999. Sosiologi. Jakarta: Erlangga.

Satjipto, Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta: Gadjah Mada Univ. Press.

Smelser, Neil. 1956. Economy and Society. Yogyakarta: Kanisius. Dapat diunduh dari:http://books.google.co.id/books?id=aZHKmu8wCVcC&pg=PA59&dq=teori+agil&hl=en&ei=2Eo5TfjDJIKzrAe24aTyCA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCoQ6AEwAA#v=onepage&q=teori%20agil&f=false [21 Januari 2011].

 


[1] Vera Aristi/I34080010 ; Alex Chandra L. Raja/I34080019 ; Suhaeri Mukti/I34080049 ; Putiha Rakhmaini Indah Sari/I34080102 ; Novindra Hidayat/I34080121 ; Septi Agusning Kuswandari/I34080138 ; Melisa Anjani P/I34090055 ; Lulu Hanifah/I34090056 ; Resti Taryania/I34090074 ; Fajrina Nissa Utami/I340900092 ; Irma Handasari/I34090136

[2] Pendapatan minimal Rp 7.500,-/hari, sedangkan pendapatan maksimal Rp 12.500,-/hari.

[3] Pendapatan minimal Rp 225.000,-/bulan, sedangkan pendapatan maksimal Rp 375.000,-/bulan (dihitung per tiga puluh hari kerja).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.